[Sejarah Khawarij] – Imran bin Hiththan ♡ Hamnah

​Sejarahnya, Imran berguru secara langsung & mendengar riwayat dari beberapa shahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, seperti Abu Musa al-Asy’ari, ‘Aisyah, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, & beberapa shahabat lain radhiyallahu’anhuma. Selanjutnya para ulama juga menimba ilmu darinya, seperti Qatadah, Yahya bin Abi Katsir, Muhammad bin Sirin, Muharib bin Ditsar, & yang lain.

Hingga suatu saat Imran menikahi Hamnah yang berpaham Khawarij.

Konon Hamnah pernah berkata kepada Imran: “Aku & dirimu sama-sama di jannah (surga). Sebab, engkau memperoleh nikmat (*beristri wanita cantik) & bersyukur, sementara aku diuji (*bersuami buruk rupa) & bersabar.”

Awalnya Imron bermaksud mengajak Hamnah meninggalkan paham Khawarij, tapi yang terjadi adalah sebaliknya. Imran bahkan dikenal sebagai salah satu pemimpin besar gerakan Shafariyyah (*salah satu sekte Khawarij). Dia juga memuji Abdurrahman bin Muljim yang sukses membunuh Khalifah ‘Ali.

As-Shafariyah atau As-Shufriyah adalah sekte yang mengikuti Ziyah bin al-Ashfar

  • Mereka termasuk sekte yang tidak sepakat dengan anak boleh dibunuh karena dosa orang tuanya. 
  • Mereka berpandangan bahwa daerah lain bukanlah daerah yang boleh diperangi. 
  • Daerah perang hanya daerah kekuasaan pemerintah. 
  • Wanita islam (golongan mereka) bolah menikah dengan orang kafi (golongan selain mereka) di daerah bukan islam demi alasan keselamatan. 
  • Kesepakatan boleh dilakukan dalam taraf perkataan, bukan perbuatan.

الله أعلم 

[Sejarah Khawarij] – Sikap Ahlus-Sunnah Terkait Konflik Mu’awiyah, ‘Ali, & Khawarij

| Imam adz-Dzahabi menyebutkan:

“Di belakang Muawiyyah banyak orang yang menyukainya, bahkan mengkultuskan dan memuliakannya. Bisa jadi Muawiyyah telah menguasai jiwa mereka dengan kemuliaan, sifat santun dan kedermawanannya atau bisa juga mereka memang dilahirkan di Syam datam keadaan mencintainya sehingga anak-anak merekapun terdidik dengan kecintaan kepada beliau tersebut. Di antara mereka juga terdapat beberapa orang Sahabat, beberapa orang Tabi’ien dan orang-orang terhormat. Mereka mau berperang bersamanya melawan penduduk Iraq, sehingga mereka memang dibesarkan dalam suasana kefanatikan…. Kita berlindung kepada Allah dari bujukan hawa nafsu.

Sebagaimana pasukan Ali dan rakyat beliau –kecuali Khawarij– juga tumbuh dalam kecintaan kepadanya dan siap membelanya, serta membenci orang-orang yang memberontak kepadanya dan orang-orang yang berusaha melepaskan diri dari kekuasaannya.

Sebagian di antara mereka mengkultuskan beliau dengan “kesyi’ahan” mereka. 

Demi Allah, bagaimana akan dapat bersikap adil dan bijaksana, orang yang dibesarkan dalam satu daerah, hanya menyaksikan pengkultusan beliau dalam kecintaan, berlebih-lebihan dalam membenci lawannya? Bagaimana jadinya kondisi mereka tersebut? 

Kita memuji Allah atas keselamatan kita, karena Dia telah menghidupkan kita di suatu zaman di mana kebenaran itu telah jelas dan antara kedua belah pihak yang bertikai-pun telah jelas kedudukannya. 

Kita juga telah mengetahui dalil-dalil yang dipergunakan oleh masing-masing pihak. Akhirnya kita bisa mempelajari, untuk kemudian memohon maaf dan ampunan, dan kita tuangkan rasa cinta kita kepada mereka dengan batasan yang layak, kita juga menyayangkan mereka yang memberontak karena alasan yang bisa dibolehkan secara umum, atau karena kekeliruan yang diampuni dengan izin Allah. Kitapun mengucapkan sebagaimana yang diajarkan Allah:

“Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman.” [Al-Hasyr : 101.] 

Kita juga menyukai mereka yang mengucilkan diri, menjauhi kedua pihak yang bertikai, seperti Saad bin Abi Waqqas, Ibnu Umar, Muhammad bin Maslamah, Said bin Zaid dan banyak yang lainnya. 

Kemudian kita berlepas diri dari orang-orang al-Khawarij yang telah keluar dari Islam, yang memerangi Ali dan mengkafirkan kedua belah pihak. Al-Khawarij adalah anjing-anjing Naar (*neraka).

Mereka telah keluar dari ajaran Islam. Namun demikian, kita tidak bisa memastikan mereka itu kekal dalam Naar, sebagaimana yang dapat kita pastikan pada para penyembah berhala dan penyembah-penyembah salib.

[Siyaru A’laamin-Nubalaa’ III/128.]

[Sejarah Khawarij] – Kisah Pembunuhan ‘Abdullah bin Khabbab

| Dalam perjalanannya, orang-orang Khaawarij bertemu dengan Abdullah bin Khabab. Mereka bertanya kepadanya: “Apakah engkau pernah mendengar dari bapakmu suatu hadits yang dikatakan dari Rasulullah SAW, kalau ada, ceritakanlah kepada kami tentangnya!” 

Lalu beliau berkata: “Ya, aku telah mendengar dari bapakku, bahwa Rasulullah menyebutkan tentang fitnah.Yang duduk ketika itu lebih baik dari pada yang berdiri, yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan, dan yang berjalan lebih baik dari yang berlari, jika engkau menemuinya, hendaklah engkau menjadi hamba Allah yang terbunuh.” 

Mereka berkata: “Apakah engkau mendengar hadits itu dari bapakmu dan memberitakannya dari Rasulullah?” 

Beliau menjawab: “Ya.”

Setelah mendengar jawaban beliau tersebut, mereka mengajak ke hulu sungai, lalu memenggal lehernya, maka mengalirlah darahnya seolah-olah seperti tali terompah. 

[Talbis Iblis hal.93-94.

Ibnu Abi Syaibah dalam bukunya “Al Mushannaf” serta Al-Mubarrad dalam bukunya “Al-Kamil” menyebutkan bahwa ketika Khawarij menduduki Nahrawan, mereka melakukan razia terhadap penduduk yang melewati wilayah kekuasaannya. Orang kafir dibolehkan lewat, namun orang Islam dihadang dan diuji beberapa pertanyaan. Jika jawabannya tidak sesuai keinginan Khawarij, maka orang Islam tersebut akan dibunuh.

Kemudian lewatlah Abdullah bin Khabbab bin al-Aratt sehingga kaum Khawarij pun bertanya beberapa hal padanya, di antaranya soal Utsman dan Ali. 

Saat itu ada orang Khawarij yang mengambil kurma yang jatuh ke tanah, sehingga orang Khawarij lainnya mencelanya karena kurma tersebut milik kafir dzimmi (*kafir yang dijamin keamanannya oleh negara Islam). 

Kemudian lewat di hadapan mereka seekor babi yang lalu diancam dan dihalau oleh seorang Khawarij dengan pedangnya, sehingga orang Khawarij lainnya mencelanya karena babi tersebut juga milik kafir dzimmi.

Melihat perbuatan mereka, berkatalah Abdullah bin Khabbab: “Maukah aku tunjukkan kepada kalian suatu keharaman yang lebih besar daripada apa yang kalian hindari itu?” 

Mereka menjawab: “Ya, tunjukkan apa itu.” 

Maka Abdullah berkata: “Aku (*seorang muslim) lebih haram untuk kalian ganggu daripada semua itu (*babi/dzimmi).”

Mendengar jawaban Abdullah, mereka pun mendorongnya ke arah sungai dan memenggal kepalanya.

[Demikianlah] Khawarij menganggap bahwa hanya merekalah yang mewakili kebenaran Islam. Keyakinan ini menjadikan mereka sebagai kaum yang memiliki kesungguhan dalam berjuang dan berperang (*menumpahkan darah).

[Sejarah Khawarij] – Guru² Inspirator Terorisme Osama bin Laden

1. Abdullah Azzam

Usamah menjadi mahasiswa pada Universitas King Abdul Aziz di Jeddah, di mana ia berguru pada salah satu dari antara gurunya, yakni Sheikh Abdullah Azzam. 

2. Muhammad Quthub

KIBLAT.NET, Jeddah – Kabar wafatnya Syaikh Muhammad Quthb tentu menjadi pukulan bagi dunia pemikiran Islam. Wajar saja, sebab beliau merupakan ideolog dan pemikir Islam modern abad ini.

Pemikiran-pemikiran Muhammad Quthb banyak terinspirasi dari kakak kandungnya sendiri, yaitu Sayyid Quthb. Beliau sendiri mengakui bahwa Sayyid Quthb bukan saja merupakan kakak kandung saja, tetapi juga merupakan ayah, guru, dan sahabat sekaligus. Namun demikian, Muhammad Quthb tetap memiliki integritasnya sendiri sebagai pemikir.

Sayyid Quthb telah membangun landasan pemikiran Islam modern, dan diatas landasan itu Muhammad Quthb mendirikan kerangka pemikiran modern. Sedikit yang dapat diketahui tentang latar belakang dan pendidikannya Muhammad Quthb, namun diketahui bahwa ia hidup bersama kakaknya yang terkenal yaitu Sayyid Quthb, kedua saudara perempuannya, dan ibunya di Helwan, dekat Kairo untuk beberapa tahun dimulai pada tahun 1926.

Muhammad Quthb pernah ditahan oleh presiden Jamal Abdul Nasser selang beberapa hari sebelum kakaknya ditangkap, yaitu padatanggal 29 Juli 1965 karena diduga keras sebagai komplotan yang akan menggulingkan pemerintahan pada saat itu. Ia dipenjara selama tujuh tahun, dan bebas pada tahun 1972. Setelah keluar dari penjara, ia mencari perlindungan denganmenjadi anggota persaudaraan muslim di Saudi Arabia, yang dikenal dengan sebutan Ikhwanul Muslimin (sebuah organisasi keagamaan yang didirikan di Mesir pada tahun 1929 oleh Hasan al-Banna, organisasi ini berusaha menentang rezim negeri Muslim yang cenderung sekuler).

Kemudian ia mengedit dan mempublikasikan buku-buku karangan kakaknya Sayyid Quthb dan mengajar sebagai profesor di bidang Kajian Islam. Menurut sumber yang berbeda, diantaranya beliau pernah mengajar di Ummul-Qura University di Mekkah dan King Abdul Aziz University di Jeddah.

Para petinggi Al-Qaidah seperti Syaikh Usamah bin Ladin dan Syaikh Ayman al-Zawahiri pernah mengambil manfaat ilmu sebagai murid beliau. [sdqfajar]

3. Sayyid Quthub

Meskipun besar di lingkungan Wahhabi (*ayah Osama adalah Wahhabist) dan memang dididik di lingkungan sedemikian, tapi bukan itu penyebab sikap radikal Osama. Wahhabisme yang sering disebut sebagai penyebab radikalisme Osama, justru tidak begitu signifikan ketimbang apa yang ia dapat ketika kuliah di King Abdulaziz University.

Di King Abdulaziz University, Osama mengenal Muhammad Qutb, saudara dari Sayyid Qutb–seorang pemikir Islam radikal. Dari Muhammad Qutb, bin Laden mengenal pemikiran-pemikiran Sayyid Qutb melalui ceramah-ceramahnya. Bin Laden biasa ditemani Jamal Khalifa, teman kuliahnya di King Abdulaziz University. Menurut Jamal Khalifa, mereka–bersama pemuda lain–rutin mendatangi ceramah Muhammad Qutb tiap minggunya. Pemikiran Qutb yang mereka terima ini begitu populer, hingga disebut Khalifa sebagai “yang paling berpengaruh bagi generasi kami.”

Salah satu ide dari ceramah Qutb yang paling signifikan adalah ide tentang perlunya sebuah Islamic vanguard (tali’a). Tali’a ini merupakan suatu wadah, wujud dari aspirasi Muslim untuk melawan kondisi dunia yang ada dalam keadaan jahiliyah (dalam artian, jahiliyah seperti pada masa Muhammad dulu). Melalui tali’a, kekerasan diperbolehkan….  Ide konkretnya sendiri kadang dikaitkan dengan ide political vanguard ala Karl Marx, yang berkembangnya memang sezaman dengan zaman Sayyid Qutb (awal abad ke-20).

Di Perang Afghanistan, bin Laden berkembang bersama dua sosok penting; yang mengajarkannya –dan melatihnya– praktek tentang jihad: Abdullah Azzam dan Ayman al-Zawahiri. Nama yang kedua yang belakangan ini sering disebut sebagai pengganti bin Laden dan “tangan kanan”nya.
Osama bin Laden turun ke medan perang sebagai kelompok mujahidin bersama Abdullah Azzam. Azzam sendiri sempat dikenal bin Laden ketika kuliah di King Abdulaziz University, sebagai salah satu pengajar. Selama di medan tempur, Azzam menjadi sosok mentor bagi bin Laden. Azzam tak hanya mengajarkan kemampuan dan teknik tempur (*dan hal-hal operasional lain seperti bom dan persenjataan), tapi juga menyumbang landasan pemikiran bagi bin Laden.
Menurut Azzam, jihad harus dilakukan ketika nasib umat Islam dipertaruhkan oleh adanya serangan dari non-Muslim–dalam bahasa Azzam, dari bangsa kafir. Dalam konteks Perang Afghanistan, umat Islam dianggap sedang berada dalam serangan kafir. Ide ini diterima dengan baik oleh bin Laden, tapi, setelah usainya Perang Afghanitan, bin Laden bersimpang jalan dengan Azzam.

Satu ciri penting yang membedakan Azzam dengan bin Laden adalah posisi Azzam yang memandang jihad sebagai suatu sikap yang defensif. Meski sama-sama terinspirasi oleh pemikiran Sayyid Qutb –Azzam sendiri membangun beberapa gerakan militan Islam– namun Azzam mensyaratkan adanya posisi bertahan. Azzam menolak dialog dengan para “kafir” (*dalam bahasanya); Azzam hanya mengenal jihad. Namun posisinya jelas: jangan menyerang bila tidak diserang duluan. Posisi Azzam ini diistilahkan sebagai defensive jihad.

4.  Aiman az-Zawahiri

Jadi pada tahun 1988, bin Laden berpisah jalan dengan Abdullah Azzam. Ia dirangkul oleh Ayman al-Zawahiri, yang ia kenal ketika Perang Afghanistan dulu. Di bawah bimbingan al-Zawahiri inilah, bin Laden menjadi benar-benar radikal. Dalam bahasa Muntasir al-Zayyat, pengacara yang pernah dipenjara bersama al-Zawahiri, “Osama berubah dari seorang mujahid menjadi seorang teroris.
Di masa-masa ini, bin Laden berbeda pendapat dengan Azzam. Karena posisi Azzam yang defensif, bin Laden merapat ke Ayman al-Zawahiri yang lebih ofensif.

Al-Zawahiri adalah seorang Mesir yang, secara umur, lebih junior ketimbang Abdullah Azzam–ia 10 tahun lebih muda. Tapi, sama halnya dengan bin Laden dan Azzam, al-Zawahiri pun seorang pengagum Sayyid Qutb. Lebih-lebih, al-Zawahiri mengenal ajaran ulama Qutb yang terkemuka ini juga dari Muhammad Qutb, seperti bin Laden. Al-Zawahiri dikenalkan ke Muhammad Qutb oleh pamannya, seorang murid setia dari Sayyid Qutb.

Al-Zawahiri tercatat sebagai orang yang paling berpengaruh bagi Osama bin Laden, bahkan hingga sekarang pun ia masih orang yang menonjol. Di setiap waktu Osama bin Laden tampil di depan umum, misalnya saat diwawancara, atau proses rekaman propaganda, al-Zawahiri selalu tampil mendampingibin Laden. Kesan yang ditimbulkan dari al-Zawahiri terhadap bin Laden di umum selalu seperti “tangan kanan” atau wakil bin Laden.

Padahal, sebaliknya, justru al-Zawahiri yang sebenarnya bisa dibilang sebagai mastermind–yang mempengaruhi bin Laden, sebelum dan sesudah Al-Qaeda terbentuk.

Al-Qaeda dibentuk pada akhir tahun 1980-an –menjelang 1990-an– selepas Perang Afghanistan, ketika bin Laden berniat melanjutkan perjuangan jihad yang ia lakukan ketika di Afghanistan. Ide dibentuknya al-Qaeda sendiri datang dari al-Zawahiri, meskipun untuk selanjutnya disusun oleh bin Laden.

Peran besar al-Zawahiri misalnya terlihat di masa-masa awal aktivitas Al-Qaeda. Ali al-Rashidi, salah satu komandan militer di masa awal, adalah orang yang dekat dengan al-Zawahiri. Ia dipilih sebagai komandan militer oleh bin Laden atas nasehat al-Zawahiri. Demikian pula, ajakan Hasan al-Turabi, militan asal Sudan, untuk bergabung bersama al-Qaeda, juga merupakan salah satu bentuk perencanaan strategis oleh al-Zawahiri–meskipun kesepakatannya diputuskan oleh bin Laden.

Al-Zawahiri berkembang sebagai orang di belakang layar yang menjadi sosok penting bagi bin Laden. Karena sosoknya yang tak sekharismatik dan tak begitu ideal sebagai propagandis, al-Zawahiri tetap berada di belakang. Sementara bin Laden yang tampil di depan, menjadi figur pemimpin ideal.

Dalam hal pemikiran, al-Zawahiri menginspirasi konsep jihad ofensif yang lebih ganas ketimbang Abdullah Azzam. Radikalisme al-Zawahiri timbul dari kekecewaannya terhadap keberadaan Israel di Timur Tengah, sejak berdirinya di tahun 1948. Menurutnya, Israel (yang dipersepsikan sebagai “komunitas Yahudi”) adalah duri dalam daging bagi Timur Tengah (yang dipersepsikan sebagai “komunitas Islam”).

Keberadaan Israel, menurut al-Zawahiri, adalah keberadaan komunitas kafir di tengah-tengah komunitas Muslim. Memang, di antara negara-negara Timur Tengah sendiri juga banyak terdapat umat beragama lain, seperti Kristen Ortodoks Timur, atau bahkan Yudais sendiri. Tapi bagi al-Zawahiri, mereka tidak seberapa. Israel ini “spesial”, karena sudah memiliki satu negara sendiri. Keberadaan Israel di wilayah negara-negara Muslim ini dilihat al-Zawahiri sebagai kegagalan pemerintah negara-negara Muslim–baginya, ini berarti membiarkan keberadaan pemerintahan kafir. Oleh karena itu, menjadi tanggung jawab bagi setiap Muslim untuk menyingkirkan pemerintahan kafir ini dengan berjihad. Jihad di sini, tentu maksudnya adalah berjihad secara fisik–dengan senjata, seperti yang sejauh ini sudah dilakukan al-Qaeda.

Dalam salah satu ceramahnya –yang tidak sepopuler bin Laden– al-Zawahiri juga menyebutkan kalau ada perempuan dan anak-anak yang terbunuh dalam proses jihad (*pengeboman, tembakan senjata, dsb.), maka itu dianggap sebagai korban yang wajar. Di ceramah bin Laden kemudian hari, bin Laden menggunakan alasan pengeboman terhadap anak-anak dan perempuan di Palestina sebagai justifikasi pengeboman-pengeboman oleh al-Qaeda.

[Sejarah Khawarij] – Pembelaan Muhammad al-Arifi terhadap Osama bin Laden & al-Qaeda yang Gila Perang & Haus Darah

Asy-Syaikh Muqbil dalam Tuhfatul-Mujib hasil transkrip sebuah ceramah beliau tertanggal 18 Shaffar 1428 H. dengan judul: 

Di Balik Peristiwa Peledakan-Peledakan di Bumi Haramain (*Saudi Arabia)

ومن الأمثلة على هذه الفتن الفتنة التي كادت تدبر لليمن من قبل أسامة بن لادن إذا قيل له: نريد مبلغ عشرين ألف ريال سعودي نبني بها مسجدًا في بلد كذا . فيقول: ليس عندنا إمكانيات، سنعطي إن شاء الله بقدر إمكانياتنا. 

وإذا قيل له: نريد مدفعًا ورشاشًا وغيرهما. فيقول: خذ هذه مائة ألف (أو أكثر) وإن شاء الله سيأتي الباقي )) أهـ .

Dan permisalan dari fitnah ini adalah adalah fitnah yang hampir menguasai Yaman yang dihembuskan oleh Usamah bin Laden, yang apabila datang seseorang mengatakan kepadanya : ”Kami membutuhkan dana sebesar 20 ribu real Saudi untuk membangun sebuah masjid di tempat tertentu”; maka ia (Usamah) akan menjawab : ”Kami tidak memiliki kemampuan untuk menyediakan dana tersebut. InsyaAllah kami akan memberikan sebatas kemampuan kami”.

Namun apabila dikatakan kepadanya : ”Kami membutuhkan tank-tank, senjata-senjata, dan yang lainnya”; maka dia akan menjawab : ”Silakan ambil dana ini senilai 100 ribu real Saudi (atau lebih) dan InsyaAllah akan menyusul tambahan berikutnya”.

Sifat Khawarij dalam al-Qaeda bisa dibaca dalam sejarah nenek moyang paling terdahulu mereka:

  • Membunuh shahabat Abdullah bin Khabbab, juga istrinya yang hamil tua, juga bayi yang hampir lahir.
  • menumpahkan darah yang diharamkan (*membunuh orang tanpa dosa). 
  • melakukan perampokan di jalan. 
  • menzhalimi ahludz dzimmah (*non-Muslim yang telah mendapat jaminan keamanan).

https://darussalam.wordpress.com/2017/03/07/sejarah-khawarij-perang-nahrawan-tahun-38-h/

  • Membunuh para shahabat Rasulullah yang mulia, dan menganggap itu semua sebagai ibadah yang mendekatkan mereka kepada Allah. 

https://darussalam.wordpress.com/2017/03/07/sejarah-khawarij-pembunuhan-khalifah-ali-bin-abi-thalib-tahun-40-h/

Yang mengherankan adalah sikap al-‘Arifi, sebagaimana diberitakan:

(Arrahmah.com) – Syaikh Muhammad Al-‘Ariifi, seorang guru besar di Universitas Kerajaan Su’ud, Riyadh, mengatakan orang-orang yang mengikuti organisasi Al Qaeda bukanlah orang yang mudah mengkafirkan kaum muslimin dan bukan orang yang mudah menumpahkan darah.

Dalam sebuah wawancara dengan televisi Al Jazera beliau berkata, “Saya bukan anggota Al Qaeda dan saya juga tidak mengadopsi pemikiran mereka, akan tetapi Allah swt berfirman: ‘Jika kalian berkata, berkatalah adil’,” jelasnya.

Beliau menambahkan, pemimpin Al Qaeda yang gugur ditangan Amerika, Syaikh Usamah bin Ladin, tidak membawa ideologi-ideologi yang dituduhkan orang-orang saat ini kepada Al Qaeda, “Syaikh Usamah bin Ladin, semoga Allah merahmatinya, tidak menanamkan ideologi-ideolongi yang saat ini dikaitkan dengan Al Qaeda,” tambahnya.

Sebelum wawancara tersebut berakhir, beliau menegaskan kembali, “Saya bukan dalam rangka membela mereka dan saya juga bukan bagian dari mereka, akan tetapi pada dasarnya kita harus adil jika kita berbicara,” tutupnya.

Sebagaimana diketahui, dunia internasional saat ini memandang organisasi Al Qaeda adalah gerakan “teroris” yang mudah mengkafirkan dan membunuh orang-orang tidak bersalah. Pemerintah Saudi pun, yang notabenenya adalah pemerintah Islam, menganggap Al Qaeda adalah organisasi Khawarij yang keluar dari Islam, bahkan menangkapi orang-orang yang mendukung dan simpati kepada organisasi Al Qaeda, sebagaimana pada bulan November 2012 pemerintah Saudi menjebloskan seorang aktivis karena menulis buku tentang Usamah bin Ladin.

(saifalbattar/an-najah.net/arrahmah.com)

Pada intinya Muhammad al-Arifi membela al-Qaeda demi menegakkan keadilan, (*selain makna terselubung di balik kata2nya, seolah ingin mengatakan Pemerintah Saudi & lainnya telah berlaku tidak adil kepada Osama & al-Qaeda), sebagaimana disimpulkan dari kalimat politis yang sedikit banyak kelihatan berbelit-belit.)

  • Saya bukan anggota Al Qaeda dan saya juga tidak mengadopsi pemikiran mereka, akan tetapi Allah swt berfirman: ‘Jika kalian berkata, berkatalah adil’. 
  • Saya bukan dalam rangka membela mereka dan saya juga bukan bagian dari mereka, akan tetapi pada dasarnya kita harus adil. 
  • Syaikh Usamah bin Ladin, semoga Allah merahmatinya, tidak menanamkan ideologi-ideologi yang saat ini dikaitkan dengan Al Qaeda.

Hanya saja kemudian ada ralat, sbb.: 

(Bahwa dia mendapat informasi yang salah dari dialognya dengan anggota dan petinggi al-Qaeda, …alasan yang kurang masuk akal. Yang mungkin adalah itu pernyataan taubat terpaksa dilakukan untuk keluar dari tekanan kontroversi, karena statemen dia dianggap mendukung terorisme. الله أعلم ).

Controversial Saudi cleric backtracks on his defence of Osama Bin Laden

Saturday, 09 February 2013

Prominent Saudi preacher Mohamed al-Arifi backtracked on Saturday on controversial statements he made this week on Qatar’s Al Jazeera television in which he defended slain al-Qaeda leader Oussama Bin Laden.

In a statement posted on his Twitter account, Arifi, a professor at King Saudi University, cited a saying by Omar bin Khattab, the second Caliph of Islam, saying that a man can review his mind from previously taken decisions and ‘return to righteousness.’ Arifi made the connection of his tweet to his previous saying on al-Qaeda.

In his television interview with Al Jazeera, Arifi said Osama Bin Laden (who he referred to as “Sheikh Oussama” and prayed for his soul to be blessed) was a victim of wide-level character assassination.

He also said that some people attribute to al-Qaeda many opinions and thoughts which the group does not hold.

“These beliefs in fact are not correct. Al-Qaeda members do not tolerate accusing other Muslims of apostasy and they do not tolerate bloodshed. I am not part of al-Qaeda and I do not adopt their thinking, but Allah says: ‘And when you testify, be just,’” Arifi said.

Further to his tweet backtracking those statements, Arifi published a new video online saying his previous opinion about al-Qaeda was based on “false” information he obtained in interviews with some al-Qaeda members and experts.

“What I am saying now overwrites what I said before and I backtrack on it,” Sheikh Arifi said, answering question by a caller on the phone during a television program.

“The return to righteousness is better than holding on to what is wrong,” Arifi said, adding: “I ask Allah for forgiveness and I repent to him.”

His statements on Al Jazeera prompted wide condemnation on social networking web sites , with many people accusing him of encouraging terrorism.

In those controversial statements Arifi said that from his meeting with al-Qaeda members who went through the kingdom’s terrorist rehabilitation program, he discovered that they did not hold opinions and thoughts often attributed to al-Qaeda.

“Even al-Qaeda leader Sheikh Oussama Bin Laden, may his soul rest in peace, did not adopt many of the thoughts that are attributed to him today,” Arifi explained.

http://english.alarabiya.net/articles/2013/02/09/265362.html

Impian tentang Negeri yang Damai

%d blogger menyukai ini: